Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 Juni 2012
Arti Psikologi
Psikolog berasal dari
bahasa Yunani yaitu Psychology yang berasal dari dua buah kata: psyche
dan logos. Psyche yang memiliki arti jiwa dan logos adalah
ilmu. Secara harfiah psikolog dapat diartikan sebagai ilmu jiwa. Gejala jiwa pada manusia dapat di bedakan
menjadi: kognisi, afeksi, konasi, dan psikomotorik. Dapat disimpulkan bahwa
psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik
sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku
berupa: tingkah laku tampak dan tidak tampak, tingkah laku yang disadari dan
yang tidak disadari. Cakupan tingkah laku itu sangat luas sehingga objek ilmu
psikologi sangat luas. Sehingga dengan mengikuti perkembangannya ilmu psikologi
dikelompokkan dalam beberapa bidang:
1.
Psikologi
Perkembangan: mempelajari tingkah laku manusia dalam tiap tahap perkembangan
manusia sampai akhir hidup.
2.
Psikologi
Pendidikan: mempelajari tingkah laku manusia dalam keadaan pendidikan.
3.
Psikologi
Sosial: mempelajari tingkah laku manusia yang berhubungan dengan masyarakat.
4.
Psikologi
Industri: mempelajari tingkah laku manusia yang muncul pada dunia industri
serta organisasi.
5.
Psikologi
Klinis: mempelajari tingkah laku manusia yang sehat dan tidak sehat, normal dan
tidak normal, serta dari aspek psikis.
Pendidikan berasal dari kata
didik yang memiliki arti memelihara dan membentuk latihan. Secara umum
pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk
mengubah tingkah laku manusia baik secar individu maupun kelompok untuk mendewasakan
manusia melalui upaya pelatihan serta pengajaran.
Psikologi Pendidikan adalah ilmu
yang mempelajari penerapan teori-teori psikologi dalam bidang pendidikan. Dalam
psikologi pendidikan juga dibahas mengenai berbagai tingkah laku yang muncul
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pelatihan dan pengajaran atau
disebut dengan proses pembelajaran. Dalam bab ini secara keseluruhan dapat
dilihat bahwa membahas berbagai tingkah laku yang muncul dalam proses
pendidikan, yang dikelompokkan bahasan-bahasan tertentu, yaitu:
1.
Pengantar
memahami psikologi pendidikan
2.
Gejala
Jiwa
3.
Perbedaan
individu dan Aplikasinya dalam pendidikan
4.
Masalah
Pembelajaran
5.
Pengukuran
dan Penilaian
6.
Diagnosis
Kesulitan Belajar
Jumat, 01 Juni 2012
POD (Pendidikan Orang Dewasa)
TUJUAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA UNTUK PENCAPAIAN
AKTUALISASI DIRI (Individual Self Actualization)
A.
Pengertian
Aktualisasi Diri
1.Aktualisasi diri menurut Maslow adalah Penggunaan dan pemanfaatan secara
penuh bakat, kapasitas-kapasitas, potensi-potensi, dsb. Orang semacam itu
memenuhi dirinya dan melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannya. Dalam
istilah lain menunjuk pada keinginan orang akan perwujudan diri, yakni pada
kecenderungannya untuk mewujudkan dirinya sesuai kemampuannya. Kecenderungan
ini dapat diungkapkan sebagai keinginan untuk makin lama makin istimewa, untuk
menjadi apa saja menurut kemampuannya.
2.Teori Aktualisasi Diri Abraham Harold Maslow
Pengertian” aktualisasi diri ”( self actualization ) yang penulis bahas pada kesempatan kali ini adalah murodif dengan term “realisasi diri “ (self realization ) yang masing – masing mempunyai pengertian yang mengacu kepada pemenuhan pengembangan diri atas potensi dan kapasitas sendiri.
“Setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya”. Pemaparan tentang kebutuhan psikologis untuk menumbuhkan, mengembangkan dan menggunakan kemampuan, oleh Maslow disebut aktualisasi diri, merupakan salah satu aspek penting teorinya tentang motivasi pada manusia. Lebih lanjut aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri (self fulfilment), untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami, dan tidak mau ditekan oleh budaya. Dalam aktualisasi diri yang optimal terkandung dua unsur penting yang terintegrasi yakni kepuasan diri dan kepuasan lingkungan oleh prestasi optimal yang diraih berkat upaya keras yang bisa membutuhkan waktu bertahun – tahun. Tentu saja, proses pencapaian aktualisasi diri baru akan teraih bila lingkungan secara kondusif memberi kesempatan bagi kebebasan individu untuk berlatih mengembangkan potensinya secara optimal yang dibantu melalui proses pendidikan.
Pengertian” aktualisasi diri ”( self actualization ) yang penulis bahas pada kesempatan kali ini adalah murodif dengan term “realisasi diri “ (self realization ) yang masing – masing mempunyai pengertian yang mengacu kepada pemenuhan pengembangan diri atas potensi dan kapasitas sendiri.
“Setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya”. Pemaparan tentang kebutuhan psikologis untuk menumbuhkan, mengembangkan dan menggunakan kemampuan, oleh Maslow disebut aktualisasi diri, merupakan salah satu aspek penting teorinya tentang motivasi pada manusia. Lebih lanjut aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri (self fulfilment), untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami, dan tidak mau ditekan oleh budaya. Dalam aktualisasi diri yang optimal terkandung dua unsur penting yang terintegrasi yakni kepuasan diri dan kepuasan lingkungan oleh prestasi optimal yang diraih berkat upaya keras yang bisa membutuhkan waktu bertahun – tahun. Tentu saja, proses pencapaian aktualisasi diri baru akan teraih bila lingkungan secara kondusif memberi kesempatan bagi kebebasan individu untuk berlatih mengembangkan potensinya secara optimal yang dibantu melalui proses pendidikan.
Orang yang termotivasi oleh kebutuhan harga diri atau aktualisasi diri pasti telah terpuaskan kebutuhannya akan makanan, rasa aman, dan kasih sayang.
1. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan ini meliputi makanan, air, oksigen, suhu tubuh teratur, dan
sebagainya. Yang sangat penting untuk kelangsungan hidup, sehingga paling kuat
di antara kebutuhan lainnya. Inilah satu-satunya kebutuhan yang dapat dipuaskan
sedemikian rupa, sehingga seseorang dapat sangat puas, meski kebutuhan ini
muncul berulang-ulang secara ajek.
Mereka yang kelaparan, sangat sedikit peluangnya mendapatkan makanan (karena miskin atau dalam keadaan tidak makan berhari-hari) akan didominasi kebutuhan ini dan tidak sempat memikirkan kebutuhan lainnya. Pada orang berkecukupan, yang mereka pikirkan bukan sekadar adanya makan, melainkan soal selera. Bila yang kesulitan mendapatkan makanan bertanya, “Hari ini bisa makan atau tidak”, yang berkecukupan, “Mau makan apa sekarang?”
Mereka yang kelaparan, sangat sedikit peluangnya mendapatkan makanan (karena miskin atau dalam keadaan tidak makan berhari-hari) akan didominasi kebutuhan ini dan tidak sempat memikirkan kebutuhan lainnya. Pada orang berkecukupan, yang mereka pikirkan bukan sekadar adanya makan, melainkan soal selera. Bila yang kesulitan mendapatkan makanan bertanya, “Hari ini bisa makan atau tidak”, yang berkecukupan, “Mau makan apa sekarang?”
2. Kebutuhan Rasa Aman
Kebutuhan ini meliputi keamanan fisik, stabilitas, ketergantungan,
perlindungan, bebas dari ancaman (sakit, ketakutan, kecemasan, bahaya, dan
keadaan chaos). Selain itu juga kebutuhan akan hukum, keteraturan, dan
struktur. Berbeda dengan kebutuhan fisiologis, kebutuhan ini tidak dapat
terlalu dipuaskan: tidak ada orang merasa sangat aman.
Dalam situasi ketidakpastian, misalnya dalam situasi chaos saat kondisi politik memanas, saat ada isu tsunami, dsb, kita berusaha sebanyak mungkin memiliki jaminan, perlindungan, dan ketertiban. Pada anak-anak, kebutuhan rasa aman ini sangat tinggi karena mereka dapat merasa terancam oleh berbagai situasi lingkungan: ruang gelap, binatang, hukuman dari orangtua dan guru, dsb.
Orang dewasa yang neurotik juga relatif tinggi kebutuhannya akan rasa aman. Hal ini disebabkan ketakutan irasional yang dialaminya akibat rasa tidak aman yang dibawa sejak masa kecil. Ia sering mengalami perasaan dan bertindak seperti ketika ia mendapatkan situasi mengancam ketika masa kecil. Mereka menguras energi lebih banyak daripada orang lain yang berkepribadian sehat untuk melindungi dirinya. Hal ini dapat muncul dalam berbagai gejala.
Mereka yang sering terancam hukuman orangtua di masa kecil, lebih sering berusaha mencari rasa aman dengan berbohong, melakukan segala sesuatu dengan keteraturan yang berlebihan untuk menghindari celaan. Mereka yang saat kecil merasa terhina karena kemiskinan, terpacu berlebihan untuk mengumpulkan uang atau properti sebanyak-banyaknya. Bila usahanya kurang berhasil, mereka menderita kecemasan neurotik yang oleh Maslow disebut basic anxiety.
Pada orang berkepribadian sehat, yang berhasil mengatasi kecemasan masa kecil, kebutuhan rasa aman akan menguat dalam situasi khusus, seperti ketika terjadi bencana, sakit, perang, dsb. Dalam situasi yang mengancam seperti itu kebutuhan lain yang tingkatnya lebih tinggi kurang dirasakan
Dalam situasi ketidakpastian, misalnya dalam situasi chaos saat kondisi politik memanas, saat ada isu tsunami, dsb, kita berusaha sebanyak mungkin memiliki jaminan, perlindungan, dan ketertiban. Pada anak-anak, kebutuhan rasa aman ini sangat tinggi karena mereka dapat merasa terancam oleh berbagai situasi lingkungan: ruang gelap, binatang, hukuman dari orangtua dan guru, dsb.
Orang dewasa yang neurotik juga relatif tinggi kebutuhannya akan rasa aman. Hal ini disebabkan ketakutan irasional yang dialaminya akibat rasa tidak aman yang dibawa sejak masa kecil. Ia sering mengalami perasaan dan bertindak seperti ketika ia mendapatkan situasi mengancam ketika masa kecil. Mereka menguras energi lebih banyak daripada orang lain yang berkepribadian sehat untuk melindungi dirinya. Hal ini dapat muncul dalam berbagai gejala.
Mereka yang sering terancam hukuman orangtua di masa kecil, lebih sering berusaha mencari rasa aman dengan berbohong, melakukan segala sesuatu dengan keteraturan yang berlebihan untuk menghindari celaan. Mereka yang saat kecil merasa terhina karena kemiskinan, terpacu berlebihan untuk mengumpulkan uang atau properti sebanyak-banyaknya. Bila usahanya kurang berhasil, mereka menderita kecemasan neurotik yang oleh Maslow disebut basic anxiety.
Pada orang berkepribadian sehat, yang berhasil mengatasi kecemasan masa kecil, kebutuhan rasa aman akan menguat dalam situasi khusus, seperti ketika terjadi bencana, sakit, perang, dsb. Dalam situasi yang mengancam seperti itu kebutuhan lain yang tingkatnya lebih tinggi kurang dirasakan
3. Kebutuhan Akan Cinta dan Rasa Memiliki
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan persahabatan, memiliki pasangan dan anak,
keanggotaan dalam keluarga, keanggotaan dalam kelompok tertentu, bertetangga,
kewarganegaraan, dsb. Termasuk di dalamnya adalah kebutuhan akan aspek-aspek
seksual dan kontak manusiawi sebagai wujud kebutuhan untuk saling memberi dan
menerima cinta.
Mereka yang tidak pernah merasakan cinta, yang tak pernah mendapat ciuman atau pelukan, dalam jangka panjang tidak akan dapat mengekspresikan cinta. Mereka cenderung mendevaluasi cinta, menganggapnya tidak penting.
Mereka yang hanya sedikit mendapatkan cinta, dapat menjadi sangat sensitif terhadap penolakan dari orang lain. Mereka memiliki kebutuhan afeksi yang tinggi: berusaha mengejar cinta dan rasa memiliki melalui berbagai cara.
Di sisi lain, mereka yang terpuaskan kebutuhan cintanya menjadi lebih percaya diri. Bila mengalami penolakan oleh seseorang, ia tidak menjadi panik, yakin bahwa ia mendapatkannya dari orang yang penting bagi dirinya.
4. Kebutuhan Akan Penghargaan
Mereka yang tidak pernah merasakan cinta, yang tak pernah mendapat ciuman atau pelukan, dalam jangka panjang tidak akan dapat mengekspresikan cinta. Mereka cenderung mendevaluasi cinta, menganggapnya tidak penting.
Mereka yang hanya sedikit mendapatkan cinta, dapat menjadi sangat sensitif terhadap penolakan dari orang lain. Mereka memiliki kebutuhan afeksi yang tinggi: berusaha mengejar cinta dan rasa memiliki melalui berbagai cara.
Di sisi lain, mereka yang terpuaskan kebutuhan cintanya menjadi lebih percaya diri. Bila mengalami penolakan oleh seseorang, ia tidak menjadi panik, yakin bahwa ia mendapatkannya dari orang yang penting bagi dirinya.
4. Kebutuhan Akan Penghargaan
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan penghargaan terhadap diri, keyakinan,
kompetensi, dan pengetahuan bahwa orang lain mendukung dengan penghargaan yang
tinggi. Menurut Maslow, kebutuhan akan penghargaan ini terdiri dari dua
tingkatan: reputasi dan harga diri (self-esteem).
Reputasi adalah persepsi mengenai gengsi (prestige) atau pengakuan
dari orang lain, sedangkan harga diri adalah perasaan seseorang bahwa dirinya
berharga. Harga diri memiliki dasar yang berbeda dari gengsi; merefleksikan
kebutuhan akan kekuatan untuk berprestasi, adekuat, penguasaan dan kompetensi
bidang tertentu, yakin dalam menghadapi dunia sekelilingnya, serta kemandirian
dan kebebasan. Dengan kata lain, harga diri bersandar pada kompetensi nyata,
bukan sekadar pandangan orang lain.
Ada sebuah canda sehubungan dengan kebutuhan sampai tahap ini: manusia
dibedakan dengan monyet dalam kebutuhan penghargaan ini. Monyet memiliki
kebutuhan sama dengan manusia hingga tingkat tiga setengah, yakni kebutuhan
akan gengsi. Namun, monyet tidak mungkin memiliki kebutuhan di atas level tiga
setengah (kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri). Jadi, bila dalam kondisi
normal seseorang masih dikejar oleh kebutuhan akan gengsi atau kebutuhan lain
di bawahnya, ia tidak berbeda dengan monyet.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan ini mencakup pemenuhan diri (self-fulfillment), realisasi
seluruh potensi, dan kebutuhan untuk menjadi kreatif. Mereka yang telah
mencapai level aktualisasi diri menjadi lebih manusiawi, lebih asli dalam
mengekspresikan diri, tidak terpengaruh oleh budaya.
Agak berbeda dengan perkembangan kebutuhan lain, bila kebutuhan penghargaan ini
terpenuhi, tidak secara otomatis kebutuhan meningkat ke aktualisasi diri.
Maslow menemukan bahwa mereka yang lepas dari kebutuhan penghargaan dan
mencapai kebutuhan aktualisasi diri adalah yang memberikan penghargaan tinggi
terhadap nilai-nilai kebenaran, keindahan, keadilan, dan nilai-nilai sejenis
yang oleh Maslow disebut sebagai B-values.
Apa itu Peserta didik dan Pendidik?
PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK
Unsur dasar yang membentuk aktivitas pendidikan
yaitu subyek pemberi (pendidik) serta subyek penerima (peserta didik).
A. Peserta
Didik
Peserta didik
adalah suatu anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri
melalui prosese pendidikan. Peserta didik adalah suatu obyek yang otonom yang ingin mengembangkan
diri secara terus - menerus agar bisa memecahkan masalah hidup yang di jumpai
sepanjang hidupnya.berbagai dimensi yang menjelma dalm peserta didik, yaitu
dimensi individualitas, sosialitas, religiusitas, moralitas.Tahapan pada peserta
didik yaitu:
a. Usia
kronologis
b. Usia
kejasmanian
c. Usia
anatomis
d. Usia
kejiwaan
e. Usia
pengalaman
Teori perkembangan fisik peserta
didik mencakup pengembangan: kekuatan, ketahanan, kecepatan, kecekatan, serta
keseimbangan.
Pada
fase perkembangan biologis meliputi:Masa
Oral, Masa Anal, Masa Felis, Masa Laten, Masa Pubertas, Masa Genital.Fase
perkembangan Intelektual terdiri dari: Tahap Sensoi Motor, Tahap Pra
operasional, Tahap operasional Konkrit, Tahap Operasional Formal.Fase
Perkembangan Sosial yaitu, Trust vs Mistrust, Autonomy vs Shame, Inisiative vs
Guilt, Industry vs Infrority, Ego-identity vs Role on fusion, Intimacy vs
Isolation, Generativity vs stagnation, Ego Integrity vs Putus asa.Teori
Perkembangan Moral, fasenya meliputi: Non-Morality, Heteronomous, Autonomous.
Kecerdasan
seseorang bersifat jamak atau ganda yang meliputi unsur-unsur kecerdasan
matematik, lingual, musikal, visual- spasial, kinestetik, interpersonal,
inrapersonal, dan natural. Kepemilikan
bakat dan minat seseprang sangat berpengaruh pada prestasi hasil belajar
peserta didik.
B. Pendidik
UU no. 14 Tahun 2005
tentang guru dan dosen menyebut guru adalah pendidik professional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Kompetensi yaitu seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus
dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan. Kompetensi yang harus dimiliki guru adalah: kompetensi
professional,personal, serta social.
Profesi adalah seperangkat ketrampilan yang
dikembangkan secara khusus melalui seperangkat norma yang dianggap cocok untuk
tugas-tugas khusus di masyarakat. Prinsip guru yaitu berprofesi, berkomitmen
tinggi, berkualitas, berkompetensi sesuai bidang, bertanggung jawab penuh atas
tugasnya.Tugas pendidik adalah kewajiban mengenali masa peka yang ada pada diri
peserta didik yang kemudian memberikan pelayanan dan perlakuan yang tepat.
Pada
pasal 10 UU tersebut disebutkan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
prfesional.
Langganan:
Komentar (Atom)











